Ekspresi cinta bisa bermacam-macam. Bagaimana dengan ekspresi cinta pasangan aktifis dakwah? Menjadi aktifis, saya rasa tidak berarti kehilangan ekspresi dalam mencintai pasangan. Bahkan menurut saya, ekspresi cinta pasangan aktifis dakwah itu unik, karena juga harus punya pengaruh positif untuk dakwah. Lho, kok bisa begitu? Apa hubungannya ekspresi kita dalam mencintai pasangan dengan dakwah?
Cinta aktifis dakwah adalah cinta seorang hamba dengan spectrum yang luas. Ia melihat kehidupan dengan cinta. Setiap hari, ketika Allah berikan kesadaran dan memasukkannya ke dalam perputaran kehidupan, ia menjalaninya dengan cinta. Apa yang membuat seorang menjadi resah dengan penyimpangan kehidupan. Apa yang menghalangi seorang dari tidur dan istirahat untuk mengurus urusan umat yang kompleks ini. Apa yang membuat seorang rela membelanjakan hartanya, meskipun ia sendiri tidak berharta lebih, untuk meringankan beban saudaranya. Semua itu adalah spectrum cinta aktifis dakwah.
Cinta aktifis dakwah adalah cinta yang terang seterang matahari. Ia penuh dengan ketulusan dan bukan basa-basi. Ia jelas dengan perangkat yang tidak menyimpang dari statusnya sebagai hamba. Cintanya bukan sekedar kedekatan, melainkan juga tanggung jawab. Bukan sekedar romantika dunia, melainkan sendung mulia penduduk langit. Jelas, terang, dan tidak ada sedikit pun yang disembunyikan. Cinta aktifis dakwah tidak membutuhkan pertanyaan Ada apa dengan Cinta.
Cinta aktifis dakwah ada dalam tingkatan ketaatan, Allah Sang Raja, Rasulullah Sang kekasih, Perjuangan yang dirindukan, dan Pasangan hidup yang menyejukkan pandangan, serta anak-anak saleh dan salehah sebagai bunga dan buahnya. Cinta tulus, cinta murni, cinta yang hidup dan menghidupkan.
Lalu secara reflek saya mengaitkan itu dengan kehidupan cinta antara pasangan aktifis dakwah. Antara Rasul Yang Mulia dengan Ummahat al-Mukminin , antara para shahabat dengan istri mereka. Lihatlah ekspresi cinta Ali bin Abi Thalib terhadap Fathimah putri Rasulullah, Zubair bin Awwam terhadap Asma’ binti Abi Bakar , Ummu Sulaim terhadap Abu Thalhah, juga ekspresi cinta Hanzhalah, Khansa’, Nusaibah, dan para aktifis dakwah zaman ini. Mencintai istri atau suami tidak membuat mereka menjadi lemah atau mundur ke belakang. Mencintai istri atau suami juga tidak membuat mereka menjadi tak berdaya atau tak mandiri. Justru yang kita saksikan dalam sejarah, mencintai membuat mereka menjadi semakin kokoh, lebih produktif dan kontributif dalam beramal, lebih matang dan bijaksana dalam berperilaku. Dengan kata lain, mereka menjadi semakin `berkembang’ dan`bersinar’ setelah menikah!
Betapa indahnya jika ekspresi cinta kita kepada istri atau suami membawa dampak seperti itu! Betapa indahnya jika ekspresi kita dalam mencintai istri atau suami memberi pengaruh positif pada kehidupan kita, baik sebagai pribadi maupun sebagai aktifis dakwah.
Menurut saya, mencintai istri atau suami tidak berarti `kehilangan’ diri kita sendiri. Tidak juga berarti kehilangan privacy, tidak membuat kita merasa `terhambat’, `terbelenggu’, atau `tak berdaya’.
Kita bisa mencintai istri atau suami kita sambil tetap memiliki kepribadian kita sendiri, tetap memiliki privacy. Tentu saja semuanya dalam batas tertentu dan tetap berada dalam koridor yang sesuai dengan syari’at Allah.
Bahkan yang lebih dahsyat adalah, jika cinta kita kepada istri atau suami memiliki `kekuatan’ yang menggerakkan dan memotivasi. Lalu cinta itu mampu membuat kita `berkembang’, menjadikan kita semakin energik, produktif dan kontributif! Dengan begitu, pernikahan membawa keberkahan tersendiri bagi dakwah. Karena, dakwah mendapatkan`kekuatan dan darah baru’ dari pernikahan para aktifisnya.
Apakah hal itu terlalu idealis? Karena kenyataan kadang berkata sebaliknya. Berapa banyak ikhwah kita yang setelah menikah merasa dirinya tidak berkembang? Atau merasa hilang potensinya? Saya tidak ingin mengatakan kondisi `tenggelamnya’ ikhwah setelah menikah sebagai sebuah fenomena, meski kondisi seperti ini sering saya jumpai.
Saya tak ingin membahas kenapa itu terjadi, apalagi mencari `kambing hitam’ segala. Tetapi kita patut merenungkan kata-kata Imam Syahid Hassan Al-Banna ketika berbicara tentang pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Saya kutipkan kata-kata beliau ini yang terdapat dalam buku Hadits Tsulasa, halaman 629… “Kehidupan rumah tangga adalah ‘hayatul amal’. Ia diwarnai oleh beban-beban dan kewajiban. Landasan kehidupan rumah tangga bukan semata kesenangan dan romantika, melainkan tolong- menolong dalam memikul beban kehidupan dan beban dakwah…”
Rumah tangga merupakan lahan amal. Rumah tangga juga menjadi markaz dakwah. Perjalanan kehidupan rumah tangga para aktifis dakwah bukan hanya dipenuhi romantika semata, tetapi juga diwarnai oleh dinamika semangat beribadah, beramal dan berdakwah. Sebuah perjalanan rumah tangga yang bernuansa ta’awun dalam memikul beban hidup dan beban dakwah. Subhanallah!
Saya memberikan apresiasi kepada para ikhwah yang setelah menikah justru semakin `bersinar’, kokoh, matang, bijaksana, energik, produktif dan kontributif dalam beramal, sambil menjaga keseimbangan dalam menunaikan tugas sebagai suami atau istri dan juga sebagai ayah atau ibu. Saya percaya, untuk bisa mendapatkan semua kondisi itu ada proses panjang, kerja keras dan pengorbanan yang tidak kecil.
Barakallahu fiik.
Lalu untuk ikhwah yang masih merasa `terhambat, terbelenggu dan tidak berkembang’ setelah menikah, saya ingin memberi apresiasi secara khusus. Berusahalah untuk menghilangkan perasaan terhambat, terbelenggu atau tidak berkembang itu. Ya, sebab membiarkan perasaan-perasaan semacam itu menguasai diri kita, sama saja dengan`menggali kuburan sendiri’. Bukankah lebih baik jika kita tetap berpikir jernih dan positif? Lalu mencari bentuk kontribusi yang paling memungkinkan yang bisa kita berikan untuk dakwah. Bisakah kita tetap berhusnuzhon, selama kita ikhlas menjalani hidup kita, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal kita? Bisakah kita tetap yakin, bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh gelar, jabatan, posisi, kedudukan, ketokohan dan kondisi fisik lainnya?!
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling bertakwa diantara kamu” (QS al-Hujurat:13).
Jadi, tetaplah tegar dan sedapat mungkin beramal sesuai kemampuan dan kesanggupan, karena kita tidak dituntut untuk beramal diluar kemampuan dan kesanggupan kita.
oleh: Ahmad Fahmi (Calon Suami Sekaligus Calon Ayah Insya Allah)
Dari Berbagai Sumber
send by fahmi_alqassam@yahoo.com
December 11, 2008 at 1:08 pm |
asalamu”alaikum… subhanallah, kajian2 aktifis terus menjamur dengan seiring bermunculannya tantangan permasalahn kader dakwah, moga jadi amal sholeh,