اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ
‘Segala puji bagi Allah, yang membangunkan kami setelah ditidurkanNya dan kepadaNya kami dibangitkan’
H.R Bukhori
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ
‘Segala puji bagi Allah, yang membangunkan kami setelah ditidurkanNya dan kepadaNya kami dibangitkan’
H.R Bukhori
Asy-Syahid Hasan Albana – Pendiri Ikhwanul Muslimin
Bagian I
Membahas peta kekuatan politik Islam di Mesir tidak bisa lepas dari membincangkan gerakan Persaudaraan Islam atau Ikhwanul Muslimin (IM) yang didirikan oleh Asy-Syahid Hasan Albana hampir tujuh dekade lalu. Bahkan banyak gerakan Islam dunia, di Asia, Australia, Eropa, maupun Amerika, terinspirasi dari gerakan al-Ikhwan ini.
Tidak aneh jika kekuatan politik Barat yang sekuler melihat IM sebagai salah satu ganjalan terberatnya dan lewat berbagai konspirasi di medan nyata maupun media, mereka banyak melontarkan fitnah keji bahwa IM berada di balik semua aksi teror hingga kini.
Sumber:
http://www.sinarhar apan.co.id/ ekonomi/mandiri/ 2004/0803/ man01.html
Episode Ibunda guru Amiroh
Aku berasal dari pulau Kalimantan, yang SD nya saja sekarang telah rata dengan tanah. Namun aku punya mimpi ingin sekolah setinggi-tingginya! Aku menggenggam bara asa walau duka lara silih berganti menyapa. Alasan yang sangat klasik tapi nyata, kemiskinan membelitku seperti remukan ular kobra! Kepapaan dan tanggung jawabku sebagai anak pertama juga pernah membuatku berhenti ingin menaklukkan dunia!
Tertatih-tatih aku lawan kejamnya dunia kapitalis. Aku pastikan diri, kemiskinan tidak akan membuatku berhenti sekolah. Meski Abah menentang dan memintaku pulang. Saat itu aku duduk di bangku kelas tiga tsanawiyah di jantung Jogja. Sepucuk surat jatuh ke pangkuanku,
“Nak, pulanglah…! lulus tsanawiyah sudah cukup untukmu. Saat ini. kebangkrutan mendera Abah, menghabiskan segalanya, seperti kobaran api yang membakar rumput kering di musim kemarau. Abah sudah tidak punya apa-apa lagi. Bahkan video tua barang peninggalan dari Saudi sudah dijual untuk mengganjal perut. Alangkah egois jika kamu memilih bertahan di Jogja, sementara ading-adingmu di rumah membanting tulang membantu orang tua. Kalau kamu di sana Abah tidak tahu kamu bisa makan atau tidak, tapi kalau kamu di sini, makan tidak makan, kita hidup bersama.” Intinya, Abah menginginkanku pulang ke Banjarmasin. Berkumpul dengan keluarga berbagi derita miskin bersama-sama. Read the rest of this entry »
Jakarta, 27 Mei 2008
Welcome to my home in cyber world….:)